Minggu, 11 Agustus 2019

Pengorbanan untuk sebuah Ketaatan


Ada iman yang sangat kuat di dalam hati sebuah keluarga.
Iman yang menghujam dalam dan mengakar.
Tak akan goyah oleh apapun.

•Istri yang Taat •

Bagaimana tidak, saat masih bayi merah sang anak dan ibu nya 'diasingkan' di sebuah padang tandus hanya berbekalkan sekendi air dan segenggam kurma. Kemudian sang ayah meninggalkan dengan diam dalam langkahnya. Sang ibu bertanya, "mengapa engkau meninggalkan kami?". Tak ada jawaban yang terdengar, hanya punggung yang terlihat. Diulanginya lagi pertanyaan yang sama. Hasilnya pun sama, tak ada jawaban. Diulanginya lagi namun kali ini pertanyaan diubah,"Apakah engkau meninggalkan kami karena perintah Allah?"

Sebuah jawaban meng-iya-kan terdengar. Sang Ibu melanjutkan,"jika ini perintah Allah, pergilah!". Sebuah jawaban yang mantap, tidak terbawa hawa nafsu, tidak terbawa perasaan, tidak lain adalah karena ketaatan yang kuat.

Sosok istri yang tegar, sosok ibu yang kuat, beliau kita kenal Siti Hajar semoga Allah merahmatinya.

Sekarang kita lihat di zaman ini. Bagaimana jika itu terjadi? Akankah dikejar, tdk mau ditinggal, menangis?

Wajar dan manusiawi bila seperti itu, ibu dengan bayi mungil nya kemudian sang ayah pergi tanpa berkata apa-apa. Tapi dengan ketaatan yang kuat semua hawa nafsu akan hilang, yang ada hanya tunduk dan patuh atas perintah Nya.

Semoga kita (nantinya) bisa meneladani ibunda Siti Hajar menjadi sosok istri yang sholihah. Istri yang taat dan patuh pada Allah dan suami nya.


• Ibu yang Tangguh •
.
Bagaimana tidak tangguh dengan sebuah ujian seperti ini?
Bekal yang hanya mungkin bertahan beberapa hari. Sedangkan tidak tau pasti kapan sang ayah akan kembali. Kondisi saat itu ada seorang bayi yang berhak atas air susu nya. Seorang ibu yang tangguh akan memikirkan bagaimana strategi nya (cerdas pikirannya).
.
Saat perbekalan telah habis, sang ibu kemudian berfikir dan berusaha. (Tidak hanya menangis dan menyerah, bahkan mungkin berprasangka buruk dan menyalahkan suaminya, sang ayah dari bayi itu).
Saat sang bayi menangis karena kehausan, sedang air susunya sudah mulai tak menetes. Sang ibu mencoba berjalan dan berlari kesana kemari menaiki bukit untuk mencari sumber air. Bayangkan bagaimana jika fisiknya tidak kuat, tidak tangguh? Setelah berhari hari dengan bekal sederhana dan harus berjalan kesana kemari di sebuah padang?
Saya yakin ibunda Hajar ini fisiknya kuat dan tangguh.
.
Masyaa Allah dengan rezeki dari Allah atas balasan ketaatannya memancarlah air saat sang anak menghentak-hentakan kakinya. Selamatlah mereka dari rasa kehausan itu.
.
Semoga kita (nantinya) bisa meneladani sang ibu ini, Siti Hajar, menjadi ibu yang cerdas pikirannya, kuat fisiknya, dan tidak mudah mengeluh..

• Anak yang Sholih •
.
Akidah yang sudah melekat dengan kuat pada diri seorang anak ini. Tidak lain adalah hasil didikan dari orang tuanya. Akidah adalah hal utama yang diberikan kepada sang anak (sisi parenting). Sejak lahir anak sudah memiliki fitrah-fitrahnya. Fitrah keimanan, fitrah fisik, fitrah belajar dan bernalar, fitrah bakat, fitrah perkembangan, fitrah individual dan sosial, dan fitrah lainnya. Yang pasti sang ibu dan sang ayah memberikan lingkungan yang baik, cara mendidik yang baik sehingga fitrah-fitrah yang ada bangkit dan berkembang menjadi hal yang baik, menjadi anak yang sholih (Fitrah Based Education).
.
Saat sang anak sudah semakin tumbuh, tiba tiba sang ayah bermimpi untuk menyembelihnya.
.
"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu! Dia (Ismail) menjawab, Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar."
(QS. As-Saffat 37: 102).
.
Bagaimana jawaban sang anak? Sungguh cerminan dari akidahnya yg kuat. "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, in syaa Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar."
.
Masyaa Allah, tabaarakallah..
Sebuah ujian terhadap kecintaan. Cinta pada pasangan, anak, dan keluarga nya. Dengan iman yang menghujam dan semua sudah paham akan hak Allah atas hamba Nya yang salah satunya adalah mencintai Allah melebihi cintanya pada ibu, bapak, anak dan keluarganya.
.
Anak yang sholih, anak yang taat pada Rabb nya, anak yang taat pada orang tuanya.
Sebuah hikmah yang sangat berharga untuk dijadikan sebagai pelajaran (nantinya) dalam keluarga. Menempatkan Allah diatas segalanya.

Pengorbanan untuk sebuah Ketaatan

Ada iman yang sangat kuat di dalam hati sebuah keluarga. Iman yang menghujam dalam dan mengakar. Tak akan goyah oleh apapun. •Istri y...