Minggu, 09 Juni 2019

Ilmu adalah Cahaya


Bismillah..

Menuntut ilmu tidak berbatas usia, tidak berbatas waktu, dan tidak berbatas tempat. Semua tempat adalah sekolah dan semua orang adalah guru. Seseorang yang berilmu akan Allah tinggikan derajatnya, seperti dalam QS. Al Mujadilah : 11, “…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Masyaa Allah betapa meruginya kita saat ada kesempatan belajar namun disia-siakan. Orang yang menuntut ilmu syar’i akan dimudahkan jalannya menuju Surga, dimohonkan ampun oleh penduduk langit dan bumi, serta dinaungi sayap-sayap malaikat, sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam dalam HR. Ahmad (No 196), Abu Dawud (no 3641).

Sejatinya seluruh hidup kita adalah untuk beribadah pada Allah (QS. Adz Dzariyat: 56). Tujuan akhir kita adalah Surga Allah. Saya masih ingat saat Pelatihan Orientasi Pegawai Baru kala itu, pertama ditanya tujuan tertinggi apa yang akan kamu capai? Sontak, hampir semua peserta menuliskan bahwa Surga Allah adalah tujuan akhirnya. Jadi, semua kegiatan atau amal kita, yuk kita niatkan semata-mata mengharap Ridho Allah, niatkan ibadah pada Allah.

Dan bisakah kita beramal tanpa ilmu? Tidak, amal tanpa ilmu itu sia-sia. Mari, yuk kita semangat untuk mencari ilmu.
Kehidupan dunia ini sejatinya adalah sebuah universitas tempat kita bersama menjadi pembelajar. Universitas untuk lulus menjadi hamba yang berilmu. Layaknya universitas pada umumnya, universitas kehidupan ini pun memiliki banyak jurusan. Melalui jurusan yang manakah untuk kita jadikan jalan menuju Syurga Nya?

Sebagai seorang muslimah, saya mencoba mengambil jurusan yang tidak jauh dari fitrahnya dan mungkin juga jurusan yang diidamkan oleh muslimah lainnya. Jurusan yang penuh tantangan untuk menyelesaikannya, namun sangat banyak muslimah yang sudah terlihat mudah menghadapinya. Semua perlu ilmunya.

Menjadi muslimah sholihah yang memberikan manfaat dimana dia berada adalah jurusan yang saya ambil dari universitas kehidupan ini. Muslimah yang menjadikan dirinya anak yang sholihah, penyejuk hati bagi bapak ibunya. Muslimah yang menjadikan dirinya sebagai mar’atus sholihah yang taat pada separuh jiwanya hingga berkumpul di syurga Nya. Muslimah yang menjadikan dirinya sebagai ibu untuk generasi yang sholih-sholihah dambaan agama. Muslimah yang menjadikan dirinya menjadi inspirator kebaikan di lingkungannya.

Tidak ada pilihan jika tanpa alasan. Seperti hal nya jurusan yang saya ambil di universitas kehidupan ini. Memilih untuk menjadi muslimah sholihah yang memberikan manfaat tidak lain adalah salah satu jalan menuju Surga Nya tanpa meninggalkan fitrahnya. Seperti kata pepatah, “Banyak jalan menuju Roma”, eh bukan…”Banyak Jalan menuju Surga”. Namun jalan ini lah yang menggerakkan hati saya untuk melewatinya.
Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan bagi saya untuk pergi merantau jauh dari kampung halaman. Merantau dari daerah berawan gersang Pesisir Pantai Selatan menuju daerah berawan lembab di Kota Hujan. Alhamdulillah Allah memberikan nikmat hidayah untuk berjumpa lingkaran-lingkaran ukhuwah yang begitu erat. Dengan mudahnya berkumpul dalam majelis taman-taman syurga. Menimba ilmu untuk mewujudkan impiannya. Alhamdulillah Allah mengizinkan saya untuk bergabung dan tinggal seatap dengan musllimah-muslimah perindu Surga. Ya, disini di Pondok Pesantren Al Iffah saya banyak belajar untuk menjadi muslimah sholihah. Sudah hampir 3 tahun tidak terasa hangatnya ukhuwah kita. Setiap malam Ahad (Malming) yang terus kita rindukan. Tidak jarang kita menyaksikan jam digital di dinding sana berubah hari dan berubah tanggal bersama dengan petuah-petuah dan ilmu yang guru kita sampaikan. Masyaa Allah, nikmat Tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan?
Mulai disinilah saya mencoba mengenal bagaimana menjadi muslimah yang sholihah, dan sejak itulah hati tergerak untuk terus memcoba menjadi pribadi lebih baik menuju sholihah.

Tidak ada hasil jika tidak ada usaha. Tidak ada peningkatan jika tidak ada strategi. Strategi yang menggerakkan hati saya selama ini adalah terus berada dalam lingkungan-lingkungan kebaikan, taman-taman syurga, dan mencoba praktik menjadi muslimah yang memberikan manfaat untuk sekelilingnya. (meskipun masih sering banget merepotkan yang lain :’( )
Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan saya untuk menjadi seorang pembelajar di Institut Ibu Profesional (IIP) ini untuk terus mencoba mencari ilmu untuk diterapkan pada saatnya. Alhamdulillah meskipun saya belum menjadi seorang ibu, namun saya diberi kesempatan untuk belajar. Bahwasanya cepat atau lambat kita muslimah akan mengambil peran itu, peran menjadi ibu yang melahirkan generasi generasi madani, generasi qurani, dan generasi yang tangguh berjuang untuk agama nya. Saya beranggapan jika ilmu ini belum bermanfaat saat ini maka ilmu akan bermanfaat kemudian.

Saya sebagai orang yang sangat menikmati dengan dunia sosial, dunia pendidikan, dan dunia anak-anak mendorong saya untuk terus menjadi muslimah yang bermanfaat. Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan saya bersama dengan orang-orang yang dengan ringannya untuk berbagi. Merelakan waktu, tenaga, pikiran, dan mungkin hingga merelakan hartanya untuk berjuang bersama di jalan dakwah, jalan kebaikan. Satu setengah tahun sudah bersama Komunitas yang punya slogan “Nyata Bebagi” saya sungguh sangat menikmati jalan ini. Dan jalan-jalan kebaikan itu tidak mulus, namun penuh dengan lubang, halangan, bahkan duri yang ada sepanjang jalan untuk menguji “luruskah niat kita?”. Namun, ketika saya mengingat bahwa di ujung jalan kebaikan ini ada Surga yang menanti kita, yang menjadi tujuan akhir kita, Masyaa Allah hilanglah seluruh halangan yang menghadang. Barakallahufiikum Sobats Kongkrit. Melalui jalan ini saya bayak belajar untuk menjadi orang yang terus bermafaat dan mungkin ini cara Allah memberikan jalan bagi saya untuk mewujudkan impiannya, menjadi muslimah sholihah yang bermanfaat untuk sekitarnya.

Semua aktifitas kita ada ilmunya untuk menjadi aktifitas yang bernilai ibadah. Ilmu sebelum Amal. Dan tanpa Ilmu, jika tanpa didahului Adab. Adab menuntut ilmu, masyaa Allah sudah Allah paparkan jelas dalam firman Nya dan melalui para ulama terdahulu kita. Imam Syafi’I berkata “ Wahai saudaraku…ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan perinciannya: “ 1) kecerdasan, 2) semangat, 3) sungguh-sungguh, 4) berkecukupan (biaya), 5) besahabat (belajar) dengan ahlinya (ustadz), 6) membutuhkan waktu yang lama”.

Ilmu adalah cahaya, dan menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah ilmu dengan cara-cara yang mulia. Mungkin cara cara saya menjadi seorang pembelajar sebelumnya masih banyak yang perlu dipebaiki. Adab menuntut ilmu itu mencakup adab pada diri sendiri, adab terhadap guru, dan adab terhadap sumber ilmu. Apalagi saat ini saya mengambil peran sebagai pengajar yang bahwasanya harus memberikan ilmu untuk terus bermanfaat. Belajar untuk mengajar dan mengajar untuk belajar. Beberapa hal yang terus menjadi instrospeksi dan berusaha untuk diterapkan adalah mencoba ikhlas untuk mendapatkan ridho Nya jalan menuju Syurga, mencari ilmu pada ahlinya atau yang menguasainya, dan berusaha menerapkan ilmu yang didapatkan agar selalu berkah dan menjadi amal sholih jalan menuju Surga. Aamiin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengorbanan untuk sebuah Ketaatan

Ada iman yang sangat kuat di dalam hati sebuah keluarga. Iman yang menghujam dalam dan mengakar. Tak akan goyah oleh apapun. •Istri y...