Setiap diri adalah seorang pembelajar. Belajar bukan hanya di sekolah, namun sepanjang hayat kita adalah sebuah pembelajaran. Alhamdulillah Allah berikan kesempatan pada saya untuk terus belajar. BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR adalah suatu strategi yang harus kita siapkan dan kita rencanakan untuk menadapatkan hasil belajar yang maksimal.
Semua manusia sudah memiliki fitrah belajar sejak lahir. Namun kenyataannya ada yang suka belajar ada yang tidak suka belajar. Tidak lain ini adalah pengaruh dari lingkungan dimana dia dibesarkan.
Mungkin sebagian kita akui bahwa cara kita dididik masih dengan cara ‘zaman old’, maka sekarang saatnya kita yang belajar untuk mendidik anak-anak kita nanti dengan beberapa metode yang lebih tepat. Namun, masyaa Allah dengan kesabaran orang tua mendidik kita sampai bisa menjadi seperti saat ini. Anak kita sudah tentu akan hidup di jaman yang berbeda dengan jaman kita. Maka teruslah mengupdate diri, agar kita tidak membawa anak kita mundur beberapa langkah dari jamannya.
Ada 3 hal yang harus kita pelajari, yaitu belajar hal yang berbeda (materi), cara belajar yang berbeda (praktik), dan semangat belajar yang berbeda (Rasa). Pembelajaran yang akan kita berikan pada anak-anak kita sebaiknya didesain dengan matang.
Dari segi materi, hal utama dan yang paling utama adalah bagaimana kita menanamkan ketauhidan dan rasa cintanya pada Allah subhanahu wata’ala, sang Pencipta jagad raya. Akidah yang lurus dan ibadah yang benar. Apabila anak-anak sudah sadar bahwa belajar adalah ibadah, maka akan semakin senang dia belajar yang akan mendekatkan pada Rabb nya. Tidak bisa dipisahkan antara ilmu dunia dan agama. Ilmu dunia yang kita pelajari semua berlandaskan pada ilmu agama.
Kedua, akhlakul karimah, Akhlak yang terpuji. Sedih sekali jika semakin hari melihat akhlak anak-anak yang semakin miris. Akhlak pada Allah, akhlak pada Rasul Nya, akhlak pada orang tua, dan akhlak pada lingkungannya.
Ketiga, kesukaan dan passion yang anak-anak punya sebaiknya kita dukung dan kita maksimalkan.
Teknik dan cara belajar yang berbeda dan unik akan membuat anak-anak semakin mudah memahami dan menerapkannya. Setiap orang tua punya kreatifitas masing-masing. Mungkin jika kita dulu belajar sering menghafal tanpa apa tujuannya, maka yang kita dapatkan hanyalah hafalan tanpa makna. Berbeda jika sebelum melakukan sesuatu kita tau apa maksud dan hikmahnya mungkin akan lebih bermakna. Inilah yang harus kita berikan pada anak anak kita. Bukan menjejalkan ilmu tanpa disertai maksudnya. Teknik dan cara mengajarkannya sangat beragam dan menarik. Oleh karena itu, perbanyaklah pengetahuan kita tentang metode pembelajaran.
Semangat belajar (rasa) pada anak-anak sebisa mungkin timbul dari dalam dirinya. Jika sudah tau apa maksud dia akan belajar maka semakin semangatlah ia. Sebagian besar, orang tua sekarang menginginkan anak belajar ini itu sesaui keinnginannya tanpa memperdulikan apakah dia nyaman dalam belajarnya. Meninggikan gunung bukan meratakan lembah adalah sebuah kalimat yang bermakna. Saya mendapatkan materi ini dalam workshop metode pembelajaran. Meninggikan gunung maksudnya adalah menggali kesukaan, hobby, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal-hal yang mereka minati dan kita sebagai orangtuanya mensupportnya semaksimal mungkin. Inilah yang akan membantu anak-anak menemukan jati diri nya. Sebaliknya, bukan meratakan lembah yang maksudnya dengan menutupi kekurangan yang ada pada dirinya. Misalnya, dia tidak ingin menjadi dokter namun orang tuanya sangat terobsesi ingin anaknya menjadi dokter maka ia dimasukkan les setiap hari untuk bisa biologi dan kimia. Anak akan merasa tertekan dan mungkin ia tidak anak menikmati apa yang ia pelajari. Ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan / kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira. Orang tua tidak perlu lagi mengajar atau menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.
Semoga bisa diterapkan dan menjadi bekal mendidik anak-anak nantinya. Karena saat ini saya belum bersuami apalagi punya anak, maka hal inilah menjadi pembelajaran bagaimana mempersiapkan diri menjadi ibu yang professional. Oleh karena itu desain pembelajaran yang spesifik belum bisa saya tuliskan dengan rinci. Semangat menjadi pembelajar, semoga segera dapat diterapkan :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar