Minggu, 09 Juni 2019

"MENCARI JALAN PULANG"


Kita bukan penduduk bumi...
Kita adalah penduduk syurga...
Kita tidak berasal dari bumi...
Tapi kita berasal dari syurga...
Maka carilah bekal untuk kembali ke rumah...
Kembali ke kampung halaman...
Dunia bukan rumah kita...
Maka jangan cari kesenangan dunia...
Kita hanya pejalan kaki dalam perjalanan kembali ke rumah-Nya.
Bukankah mereka yang sedang dalam perjalanan pulang selalu mengingat rumahnya dan mereka mencari buah tangan untuk kekasih hatinya yang menunggu di rumah?
.
Lantas....
Apa yang kita bawa untuk penghuni rumah kita, Rabb yang mulia?
Dia hanya meminta amal sholeh dan keimanan, serta rasa rindu padaNya yang menanti di rumah.
Begitu beratkah memenuhi harapan-Nya?
Kita tidak berasal dari bumi...
Kita adalah penduduk syurga...
Rumah kita jauh lebih Indah di sana.
Kenikmatannya tiada terlukiskan...
Dihuni oleh orang-orang yang mencintai kita...
Serta tetangga dan kerabat yang menyejukkan hati.
.
Mereka rindu kehadiran kita...
Setiap saat menatap menanti kedatangan kita...
Mereka menanti kabar baik dari Malaikat Izrail...
Kapan keluarga mereka akan pulang?
Ikutilah peta (Al-Qur'an) yang Allah titipkan sebagai pedoman perjalanan...
Jangan sampai salah arah dan berbelok ke rumahnya Iblis Laknatullah yaitu jalan ke Neraka Jahannam.
.
Kita bukan penduduk bumi...
Kita penduduk syurga..
Bumi hanyalah dalam perjalanan...
Kembalilah ke rumah.
Selamat berikhtiar saudaraku semua...
untuk kembali ke rumah kita di syurga.
Bismillah... .in syaa Allah

Credit by Akrim Said

BUNDA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN


Setiap orang adalah agen perubahan. Sebuah perubahan berawal dari rasa empati terhadap lingkungan dimana kita berada dan kemampuan atau passion yang dimiliki. Rasa empati yang tinggi mendorong kita untuk bergerak, membangkitkan ide, dan mengajak yang lain untuk melakukan perubahan.

Semakin majunya teknologi budaya membaca pada anak-anak semakin menurun. padahal kata pepatah “Membaca adalah Jendela Dunia”. Orang yang suka membaca maka wawasannya akan semakin luas, bias menembus cakrawala. Dengan membaca akan banyak ide yang bias dimunculkan. Namun sayangnya ketertarikan membaca buku semakin menurun. Hal ini mungkin dapat disebabkan anak-anak sejak kecil sudah dekat dengan gadget yang memang lebih mengasyikkan. Sebenarnya semua ini dapat diminimalisir dengan menumbuhkan kecintaan membaca pada anak-anak dan remaja. Hal ini dapat berasal dari keluarga itu sendiri atau bersama komunitas. Saya memang suka dengan membaca dan mengoleksi buku. Saya ingin mengajak anak-anak di lingkungan sekitar saya tinggal nantinya untuk cinta membaca. Dapat berawal dari mengajak mereka bermain dan mengikuti challenge membaca di perpustakaan rumah saya. Karena saya suka dengan mengajar dan anak-anak, mungkin inilah sedikit modal untuk membangun sebuah komunitas Rumah Baca.

Saya juga suka dengan membuat kreatifitas handmade dari barang yang kurang bernilai guna atau nilai jual menjadi barang yang bernilai guna, contohnya dari kain perca dapat dibuat sebuah hiasan, bros, atau lainnya yang bernilai guna. Hal ini akan saya bangkitkan kembali bersama ibu-ibu rumah tangga di sekitar saya tinggal nantinya. Dan harapannya dapat membangun sebuah Warung Seni yang dapat menjadi tempat display maupun pemasaran produk-produk yang dihasilkan.
In syaa Allah..

MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS


Bismillah…
Produktivitas bukan sekedar diukur dengan uang. Produktivitas adalah semua hal yang dapat menghasilkan ‘produk’. Allah memberikan kesempatan kita hidup di dunia ini dengan misi yang mulai. Tujuan akhir dari perjalanan hidup ini adalah SURGA. Berbagai jalan dapat kita telusuri untuk mencapai surgaNya. Lakukan apa yang kamu bisa dan apa yang kamu suka. Salah satu hal yang saya bisa dan suka adalah belajar berbagi dan bermain edukatif bersama anak-anak. Dunia anak-anak bagi saya layaknya dunia refreshing.

BE, DO, HAVE

BE. Mental seperti apa yang harus kita miliki untuk menjadi seorang pengajar dan pendamping anak-anak?

Semua aktivitas yang kita lakukan perlu dirancang dan dan dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, agar ‘produk’ yang dihasilkan pun menjadi maksimal. Untuk menjadi seorang pengajar dan pendamping anak-anak sangat diperlukan kemampuan teknik interaksi dengan anak-anak, mengenal dunia mereka, kemampuan berpikir kreatif, kemampuan mengenali situasi, dan kemampuan menjadi  qudwah atau teladan yang baik. Sejatinya bila sedang bersama anak-anak maka diri kita lah saat itu menjadi sebuah cermin yang akan memberikan bayangan dari diri mereka.

DO. Apa yang harus kita lakukan untuk menjadi seorang pengajar dan pendamping anak-anak?

Impian tanpa usaha akan tetap menjadi impian. Untuk menjadi seorang pengajar dan pendamping anak-anak yang harus kita siapkan dan kita lakukan adalah memperkaya ilmu khususnya ilmu apa yang akan ditanamkan pada mereka dan berlatih belajar dan bermain bersama mereka. Ilmu Allah yang harus kita cari untuk ditanamkan pada mereka sungguh sangatlah luas. Ilmu yang paling pertama dan yang paling utama adalah ilmu tauhid. Keimanan dam keyakinan pada ke Esa an Allah menjadi pokok landasannya. Karena apapun yang kita lakukan berlandaskan pada keimanan kita pada Allah subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, perkaya diri kita untuk terus belajar dan menggali ilmu tentang keimanan dan ketakwaan kita pada Allah. Ilmu yang kita pelajari termasuk ilmu kauliyah dan ilmu kauniyah. Alam semesta ini adalah ayat-ayat kauniyah dari Allah yang diperintahkan olehNya untuk kita baca.

Selain dari segi ilmu apa yang akan disampaikan, ilmu bagaimana cara meyampaikan pun perlu kita pelajari. Bagaimana berinteraksi dengan anak-anak, bagaimana menciptakan sebuah kondisi yang nyaman bagi mereka, dan bagaimana bisa menjadi teladan bagi mereka. Semua ini jika kita hanya kaya dengan teori tanpa praktik maka tidaklah menghasilkan produk yang maksimal. Alhamdulillah selama ini saya diberikan kesempatan untuk belajar dan menerapkan apa yang sudah dipelajari terkait bersama anak-anak ini. Allah memberikan kesempatan saya bergabung dengan Rumah Harapan (2 tahun), Kongkrit Mengajar, Fun Edukatif, Kebumen Mengajar, dan berbagai kegiatan bersama anak-anak.

HAVE. Apa yang akan kita lakukan apabila sudah memiliki apa yang kita harapkan?

Sebuah ilmu yang tidak diamalkan maka bagai pohon tidak berbuah. Sebuah ilmu yang tidak digunakan lama-lama akan terlupakan. Namun sebaliknya, ilmu yang terus kita gunakan bagaikan mata pisau yang terus diasah yang lama-lama akan menjadi tajam. Dan lebih dari itu, ilmu yang diamalkan akan memberikan pahala yang terus mengalir. Barangsiapa mengajak kepada kebaikan pada orang lain, dan orang tersebut melakukannya maka baginya pahala seperti apa yang mereka kerjakan tanpa mengurangi pahala orang yang mengerjakannya. Masyaa Allah. Jadi apabila kita sudah mempunyai harapan atau impian dan didukung dengan ilmunya, maka tugas kita adalah AMALKAN.

Sebuah impian bagi saya adalah memiliki sebuah pondok atau yayasan untuk anak-anak kurang mampu. Untuk mencapai produktivitas yang maksimal maka perlu dilakukan perancangan berdasarkan dimensi waktu.

Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita? (Lifetime purpose)

Dalam kurun waktu kehidupan saya ingin menjadi orang yang bermanfaat untuk lingkungan saya. Tujuan akhir kita adalah SYURGA. Apabila terkait dengan aspek ini saya ingin memiliki sebuah pondok atau yayasan untuk anak-anak kurang mampu. Saya ingin sekali mereka anak-anak lingkungan dimana nantinya saya tinggal menjadi anak-anak yang sholih dan sholihah.

Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun? (Strategic Plan)

Target dalam kurun waktu 5 sampai 10 tahun yang akan datang adalah mulai mengenal masyarakat dimana saya tinggal, menjadikan rumah dimana saya tinggal menjadi tempat anak-anak belajar dan bermain, terus menambah ilmu bagaimana untuk mendirikan sebuah pondok atau yayasan. Kemudian di tahun ke 10 semoga sudah berdiri sebuah yayasan untuk anak-anak kurang mampu. Semoga yang menjadi suami saya nantinya bisa mendukungnya (. Jika saat ini saya umur 25 tahun maka 10 tahun yang akan datang in syaa Allah umur 35 tahun.

Apa yang ingi kita capai dalam kurun waktu satu tahun? (new year resolution)

Dalam kurun waktu satu tahun ini saya terus belajar memperkaya ilmu tentang pendidikan anak-anak, permasalahan sosial, dan belajar bagaimana membangun sebuah yayasan. Dan semoga Allah pertemukan dengan orang terbaik yang mendukungnya #ups

Meninggikan Gunung, Bukan Meratakan Lembah

Setiap diri adalah seorang pembelajar. Belajar bukan hanya di sekolah, namun sepanjang hayat kita adalah sebuah pembelajaran. Alhamdulillah Allah berikan kesempatan pada saya untuk terus belajar. BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR adalah suatu strategi yang harus kita siapkan dan kita rencanakan untuk menadapatkan hasil belajar yang maksimal.

Semua manusia sudah memiliki fitrah belajar sejak lahir. Namun kenyataannya ada yang suka belajar ada yang tidak suka belajar. Tidak lain ini adalah pengaruh dari lingkungan dimana dia dibesarkan.
Mungkin sebagian kita akui bahwa cara kita dididik masih dengan cara ‘zaman old’, maka sekarang saatnya kita yang belajar untuk mendidik anak-anak kita nanti dengan beberapa metode yang lebih tepat. Namun, masyaa Allah dengan kesabaran orang tua mendidik kita sampai bisa menjadi seperti saat ini. Anak kita sudah tentu akan hidup di jaman yang berbeda dengan jaman kita. Maka teruslah mengupdate diri, agar kita tidak membawa anak kita mundur beberapa langkah dari jamannya.

Ada 3 hal yang harus kita pelajari, yaitu belajar hal yang berbeda (materi), cara belajar yang berbeda (praktik), dan semangat belajar yang berbeda (Rasa). Pembelajaran yang akan kita berikan pada anak-anak kita sebaiknya didesain dengan matang.

Dari segi materi, hal utama dan yang paling utama adalah bagaimana kita menanamkan ketauhidan dan rasa cintanya pada Allah subhanahu wata’ala, sang Pencipta jagad raya. Akidah yang lurus dan ibadah yang benar. Apabila anak-anak sudah sadar bahwa belajar adalah ibadah, maka akan semakin senang dia belajar yang akan mendekatkan pada Rabb nya. Tidak bisa dipisahkan antara ilmu dunia dan agama. Ilmu dunia yang kita pelajari semua berlandaskan pada ilmu agama.

Kedua, akhlakul karimah, Akhlak yang terpuji. Sedih sekali jika semakin hari melihat akhlak anak-anak yang semakin miris. Akhlak pada Allah, akhlak pada Rasul Nya, akhlak pada orang tua, dan akhlak pada lingkungannya.

Ketiga, kesukaan dan passion yang anak-anak punya sebaiknya kita dukung dan kita maksimalkan.
Teknik dan cara belajar yang berbeda dan unik akan membuat anak-anak semakin mudah memahami dan menerapkannya. Setiap orang tua punya kreatifitas masing-masing. Mungkin jika kita dulu belajar sering menghafal tanpa apa tujuannya, maka yang kita dapatkan hanyalah hafalan tanpa makna. Berbeda jika sebelum melakukan sesuatu kita tau apa maksud dan hikmahnya mungkin akan lebih bermakna. Inilah yang harus kita berikan pada anak anak kita. Bukan menjejalkan ilmu tanpa disertai maksudnya. Teknik dan cara mengajarkannya sangat beragam dan menarik. Oleh karena itu, perbanyaklah pengetahuan kita tentang metode pembelajaran.

Semangat belajar (rasa) pada anak-anak sebisa mungkin timbul dari dalam dirinya. Jika sudah tau apa maksud dia akan belajar maka semakin semangatlah ia. Sebagian besar, orang tua sekarang menginginkan anak belajar ini itu sesaui keinnginannya tanpa memperdulikan apakah dia nyaman dalam belajarnya. Meninggikan gunung bukan meratakan lembah adalah sebuah kalimat yang bermakna. Saya mendapatkan materi ini dalam workshop metode pembelajaran. Meninggikan gunung maksudnya adalah menggali kesukaan, hobby, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal-hal yang mereka minati dan kita sebagai orangtuanya mensupportnya semaksimal mungkin. Inilah yang akan membantu anak-anak menemukan jati diri nya. Sebaliknya, bukan meratakan lembah yang maksudnya dengan menutupi kekurangan yang ada pada dirinya. Misalnya, dia tidak ingin menjadi dokter namun orang tuanya sangat terobsesi ingin anaknya menjadi dokter maka ia dimasukkan les setiap hari untuk bisa biologi dan kimia. Anak akan merasa tertekan dan mungkin ia tidak anak menikmati apa yang ia pelajari. Ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan / kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira. Orang tua tidak perlu lagi mengajar atau menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.

Semoga bisa diterapkan dan menjadi bekal mendidik anak-anak nantinya. Karena saat ini saya belum bersuami apalagi punya anak, maka hal inilah menjadi pembelajaran bagaimana mempersiapkan diri menjadi ibu yang professional. Oleh karena itu desain pembelajaran yang spesifik belum bisa saya tuliskan dengan rinci. Semangat menjadi pembelajar, semoga segera dapat diterapkan :)

Ilmu adalah Cahaya


Bismillah..

Menuntut ilmu tidak berbatas usia, tidak berbatas waktu, dan tidak berbatas tempat. Semua tempat adalah sekolah dan semua orang adalah guru. Seseorang yang berilmu akan Allah tinggikan derajatnya, seperti dalam QS. Al Mujadilah : 11, “…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Masyaa Allah betapa meruginya kita saat ada kesempatan belajar namun disia-siakan. Orang yang menuntut ilmu syar’i akan dimudahkan jalannya menuju Surga, dimohonkan ampun oleh penduduk langit dan bumi, serta dinaungi sayap-sayap malaikat, sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam dalam HR. Ahmad (No 196), Abu Dawud (no 3641).

Sejatinya seluruh hidup kita adalah untuk beribadah pada Allah (QS. Adz Dzariyat: 56). Tujuan akhir kita adalah Surga Allah. Saya masih ingat saat Pelatihan Orientasi Pegawai Baru kala itu, pertama ditanya tujuan tertinggi apa yang akan kamu capai? Sontak, hampir semua peserta menuliskan bahwa Surga Allah adalah tujuan akhirnya. Jadi, semua kegiatan atau amal kita, yuk kita niatkan semata-mata mengharap Ridho Allah, niatkan ibadah pada Allah.

Dan bisakah kita beramal tanpa ilmu? Tidak, amal tanpa ilmu itu sia-sia. Mari, yuk kita semangat untuk mencari ilmu.
Kehidupan dunia ini sejatinya adalah sebuah universitas tempat kita bersama menjadi pembelajar. Universitas untuk lulus menjadi hamba yang berilmu. Layaknya universitas pada umumnya, universitas kehidupan ini pun memiliki banyak jurusan. Melalui jurusan yang manakah untuk kita jadikan jalan menuju Syurga Nya?

Sebagai seorang muslimah, saya mencoba mengambil jurusan yang tidak jauh dari fitrahnya dan mungkin juga jurusan yang diidamkan oleh muslimah lainnya. Jurusan yang penuh tantangan untuk menyelesaikannya, namun sangat banyak muslimah yang sudah terlihat mudah menghadapinya. Semua perlu ilmunya.

Menjadi muslimah sholihah yang memberikan manfaat dimana dia berada adalah jurusan yang saya ambil dari universitas kehidupan ini. Muslimah yang menjadikan dirinya anak yang sholihah, penyejuk hati bagi bapak ibunya. Muslimah yang menjadikan dirinya sebagai mar’atus sholihah yang taat pada separuh jiwanya hingga berkumpul di syurga Nya. Muslimah yang menjadikan dirinya sebagai ibu untuk generasi yang sholih-sholihah dambaan agama. Muslimah yang menjadikan dirinya menjadi inspirator kebaikan di lingkungannya.

Tidak ada pilihan jika tanpa alasan. Seperti hal nya jurusan yang saya ambil di universitas kehidupan ini. Memilih untuk menjadi muslimah sholihah yang memberikan manfaat tidak lain adalah salah satu jalan menuju Surga Nya tanpa meninggalkan fitrahnya. Seperti kata pepatah, “Banyak jalan menuju Roma”, eh bukan…”Banyak Jalan menuju Surga”. Namun jalan ini lah yang menggerakkan hati saya untuk melewatinya.
Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan bagi saya untuk pergi merantau jauh dari kampung halaman. Merantau dari daerah berawan gersang Pesisir Pantai Selatan menuju daerah berawan lembab di Kota Hujan. Alhamdulillah Allah memberikan nikmat hidayah untuk berjumpa lingkaran-lingkaran ukhuwah yang begitu erat. Dengan mudahnya berkumpul dalam majelis taman-taman syurga. Menimba ilmu untuk mewujudkan impiannya. Alhamdulillah Allah mengizinkan saya untuk bergabung dan tinggal seatap dengan musllimah-muslimah perindu Surga. Ya, disini di Pondok Pesantren Al Iffah saya banyak belajar untuk menjadi muslimah sholihah. Sudah hampir 3 tahun tidak terasa hangatnya ukhuwah kita. Setiap malam Ahad (Malming) yang terus kita rindukan. Tidak jarang kita menyaksikan jam digital di dinding sana berubah hari dan berubah tanggal bersama dengan petuah-petuah dan ilmu yang guru kita sampaikan. Masyaa Allah, nikmat Tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan?
Mulai disinilah saya mencoba mengenal bagaimana menjadi muslimah yang sholihah, dan sejak itulah hati tergerak untuk terus memcoba menjadi pribadi lebih baik menuju sholihah.

Tidak ada hasil jika tidak ada usaha. Tidak ada peningkatan jika tidak ada strategi. Strategi yang menggerakkan hati saya selama ini adalah terus berada dalam lingkungan-lingkungan kebaikan, taman-taman syurga, dan mencoba praktik menjadi muslimah yang memberikan manfaat untuk sekelilingnya. (meskipun masih sering banget merepotkan yang lain :’( )
Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan saya untuk menjadi seorang pembelajar di Institut Ibu Profesional (IIP) ini untuk terus mencoba mencari ilmu untuk diterapkan pada saatnya. Alhamdulillah meskipun saya belum menjadi seorang ibu, namun saya diberi kesempatan untuk belajar. Bahwasanya cepat atau lambat kita muslimah akan mengambil peran itu, peran menjadi ibu yang melahirkan generasi generasi madani, generasi qurani, dan generasi yang tangguh berjuang untuk agama nya. Saya beranggapan jika ilmu ini belum bermanfaat saat ini maka ilmu akan bermanfaat kemudian.

Saya sebagai orang yang sangat menikmati dengan dunia sosial, dunia pendidikan, dan dunia anak-anak mendorong saya untuk terus menjadi muslimah yang bermanfaat. Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan saya bersama dengan orang-orang yang dengan ringannya untuk berbagi. Merelakan waktu, tenaga, pikiran, dan mungkin hingga merelakan hartanya untuk berjuang bersama di jalan dakwah, jalan kebaikan. Satu setengah tahun sudah bersama Komunitas yang punya slogan “Nyata Bebagi” saya sungguh sangat menikmati jalan ini. Dan jalan-jalan kebaikan itu tidak mulus, namun penuh dengan lubang, halangan, bahkan duri yang ada sepanjang jalan untuk menguji “luruskah niat kita?”. Namun, ketika saya mengingat bahwa di ujung jalan kebaikan ini ada Surga yang menanti kita, yang menjadi tujuan akhir kita, Masyaa Allah hilanglah seluruh halangan yang menghadang. Barakallahufiikum Sobats Kongkrit. Melalui jalan ini saya bayak belajar untuk menjadi orang yang terus bermafaat dan mungkin ini cara Allah memberikan jalan bagi saya untuk mewujudkan impiannya, menjadi muslimah sholihah yang bermanfaat untuk sekitarnya.

Semua aktifitas kita ada ilmunya untuk menjadi aktifitas yang bernilai ibadah. Ilmu sebelum Amal. Dan tanpa Ilmu, jika tanpa didahului Adab. Adab menuntut ilmu, masyaa Allah sudah Allah paparkan jelas dalam firman Nya dan melalui para ulama terdahulu kita. Imam Syafi’I berkata “ Wahai saudaraku…ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan perinciannya: “ 1) kecerdasan, 2) semangat, 3) sungguh-sungguh, 4) berkecukupan (biaya), 5) besahabat (belajar) dengan ahlinya (ustadz), 6) membutuhkan waktu yang lama”.

Ilmu adalah cahaya, dan menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah ilmu dengan cara-cara yang mulia. Mungkin cara cara saya menjadi seorang pembelajar sebelumnya masih banyak yang perlu dipebaiki. Adab menuntut ilmu itu mencakup adab pada diri sendiri, adab terhadap guru, dan adab terhadap sumber ilmu. Apalagi saat ini saya mengambil peran sebagai pengajar yang bahwasanya harus memberikan ilmu untuk terus bermanfaat. Belajar untuk mengajar dan mengajar untuk belajar. Beberapa hal yang terus menjadi instrospeksi dan berusaha untuk diterapkan adalah mencoba ikhlas untuk mendapatkan ridho Nya jalan menuju Syurga, mencari ilmu pada ahlinya atau yang menguasainya, dan berusaha menerapkan ilmu yang didapatkan agar selalu berkah dan menjadi amal sholih jalan menuju Surga. Aamiin..

Pengorbanan untuk sebuah Ketaatan

Ada iman yang sangat kuat di dalam hati sebuah keluarga. Iman yang menghujam dalam dan mengakar. Tak akan goyah oleh apapun. •Istri y...